Contoh Materi Pemodelan sistem

SYSTEM DESCRIPTION

 

 

OBSERVER                          : PT. ABC INDONESIA,    MANAGER PRODUKSI

 

PURPOSE                             : MERENCANAKAN BERAPA BANYAK PRODUKSI SABUN YANG HARUS DIHASILKAN  UNTUK MENGETAHUI PERUSAHAAN BERADA PADA TITIK IMPAS

 

 

ENVIRONMENT                 : SABUN, PERENCANAAN BIAYA PRODUKSI

 

INPUTS:

 

CONTROLLABLE               : BERAPA BANYAK SABUN YANG HARUS DIPRODUKSI

UNCONTROLLABLE         : BERAPA BESAR PENJUALAN YANG BISA DILAKUKAN

 

OUTPUTS                             : TOTAL BIAYA PRODUKSI

 

COMPONENTS                   : BIAYA TETAP DAN BIAYA VARIABEL

 

RELATIONSHIP                  : BERAPA BESAR BIAYA YANG TELAH DIKELUARKAN

 

 

 

 

 

 

MODEL MATHEMATIC

 

*ANALISIS TITIK IMPAS PADA PERMASALAHAN

PRODUKSI

 

Aplikasi analisis titik impas pada permasalahan produksi biasanya digunakan untuk menentukan tingkat produksi yang bisa mengakibatkan perusahaan berada pada kondisi impas. Ada tiga komponen biaya yang dipertimbangkan dalam analisis titik impas ini, yaitu :

  1. biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya-biaya yang besarnya

tidak dipengaruhi oleh volume produksi.

  1. biaya variabel (variabel cost) yaitu biaya-biaya yang

besarnya tergantung terhadap volume produksi.

  1. biaya total (total cost) adalah jumlah dari biaya-biaya

tetap dan biaya-biaya variabel.

Bila dimisalkan X adalah volume produk yang dibuat, dan c adalah ongkos variabel yang terlibat dalam pembuatan 1 buah produk maka ongkos variabel untuk membuat X buah produk adalah :

VC = cX

Karena ongkos total adalah jumlah dari ongkos-ongkos tetap dan ongkos-ongkos variabel maka berlaku hubungan :

TC = FC + VC

= FC + cX

Dimana :

TC   : ongkos total untuk membuat X produk

FC   : ongkos tetap

VC   : ongkos variabel untuk membuat X produk

c       : ongkos variabel untuk membuat 1 produk

 

TR = pX

Dimana :

TR    : total pendapatan dari penjualan X buah produk

P       : harga jual persatuan produk

 

 

SOLUSI

 

  1. ongkos variabel per unit adalah :

 

C   = 30 juta – 25 juta / 15.000 – 10.000

= 5 juta / 5.000

= Rp. 1000 per unit

 

Sedangkan ongkos tetapnya bisa dihitung berdasarkan

Persamaan TC = FC + cX untuk X = 10.000 berlaku :

 

TC          = FC + cX

25 juta   = FC + 1.000 Rp/unit x 10.000 unit

FC          = 15 juta

 

Atau dengan X = 15.000 diperoleh :

 

TC          = FC + cX

30 juta    = FC + 1.000 Rp/unit x 15.000 unit

FC          = Rp. 15 juta

 

  1. bila p = RP. 6000 per unit maka jumlah yang harus

diproduksi per bulan agar mencapai titik impas adalah :

 

X          = FC / p-c

= 15 juta / 6.000 – 1.000

= 3.000 unit per bulan

 

Jadi, volume produksi sebesar 3.000 unit per bulan menyebabkan perusahaan berada pada titik impas.

 

 

 

 

 

 

 

  1. bila X = 12.000 unit per bulan maka total penjualan  adalah :

 

TR    = pX

= Rp. 6.000 / unit x 12.000 unit

= Rp. 72 juta per bulan

 

Dan total ongkos yang terjadi adalah :

 

TC    = FC + cX

= Rp. 15 juta + Rp. 1.000 / unit x 12.000 unit

= Rp. 27 juta per bulan

 

Jadi, bila perusahaan memproduksi 12.000 unit/bulan perusahaan berada dalam kondisi untung karena total penjualan akan lebih tinggi dari total ongkosnya.

Besarnya keuntungan adalah :

Rp. 72 juta – Rp. 27 juta = Rp. 45 juta per bulan

 

created by :

Aris Jonian ( UPI YAI-2008)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: